Tampilkan postingan dengan label Salamdakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Salamdakwah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 September 2017

Bukti kebenaran Al-Quran laut berwarna beda dan mengalir berdampingan



“Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqaan: 53)

Itu adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril. 

Luar biasa, pemandangan selat Gibraltar yang memiliki dua warna air sungguh menakjubkan. Sudah lama membaca dan memahami tafsirnya, tentang adanya dua warna air laut di Gibraltar.

“Sesungguhnya dalam penciptaan bumi dan langit dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang orang yang berakal”. (QS. Al-Imran: 190)


Salam dakwah
| September 16, 2017 |

Rabu, 30 Agustus 2017

Manhaj dakwah Ahlussunnah wal Jama'ah



MANHAJ DAKWAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA'AH

Allah Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Mahasuci Allah, dan aku tidak ada termasuk orang-orang yang musyrik.” [Yusuf: 108]

Jadi, yang dikatakan dakwah adalah mengajak manusia kepada Rukun Islam, Rukun Iman, dan melaksanakan syari’at Islam, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah, melarang dari berbuat syirik, mengajak umat untuk ittiba’ (meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan melarang dari berbuat bid’ah. Mengajak manusia ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan di akhirat dengan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Radhiyallahu anhum.

Dakwah di jalan Allah merupakan sebesar-besar ketaatan kepada Allah. Dan perkataan yang paling baik adalah mengajak manusia ke jalan Allah dan beramal shalih.

Kita faham bahwasanya mengikuti ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berkaitan dengan syari’at dan aturannya yang detail dalam peribadatan serta perinciannya adalah wajib, tetapi kenapa kita tidak memahami ketetapan Allah Azza wa Jalla dan aturan-Nya yang detail dalam masalah dakwah? Padahal para Nabi semuanya meniti jalan yang satu. Kita tidak boleh berpaling dari manhaj dakwah yang di-contohkan oleh para Nabi dan tidak boleh menyelisihinya. Sebab, apabila menyalahi menhaj dakwah para Nabi Alahissallam, akibatnya sangat fatal. Para da’i wajib menggunakan kembali akal mereka dan mengubah sikap mereka.

diringkas dari:
Penulis : Ustadz Yazid Bin Abdul Qadir Jawas


Salam dakwah
| Agustus 30, 2017 |

Jumat, 25 Agustus 2017

Perbanyak amal shalih



PERBANYAK AMAL SHALIH.

Berupa ibadah sunat seperti : shalat, sedekah, jihad, membaca Al-Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipat gandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yang utama, sekalipun jihad yang merupakan amal ibadah yang amat utama, kecuali jihad orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya. "Tidak ada sebuah hari pun dimana amal shalih lebih dicintai oleh ALLAH melebihi amal shalih yang dikerjakan di *10 hari pertama di bulan Dzulhijjah."*, tegas Rasulullah -shallallahu 'alaihi wa sallam-. Para shahabat pun bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah tidak juga jihad fi sabilillah?"
Beliau -shallallahu 'alaihi wa sallam- menjawab: "Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang pergi berjihad membawa jiwa dan hartanya dan ia tidak pernah pulang kembali ke kampung halamannya (mati syahid)."
HR. Bukhari
Dan dalam hadits Baihaqi:
"Tidak ada amalan yang *lebih baik* disisi ALLAH dan *lebih besar pahalanya* dibanding amal shalih yang dilakukan di *10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.*"
HR. Baihaqi,

Hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan ; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya.

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya dan menunjuki kita kepada jalan yang lurus. Dan shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya.


Salamdakwah
| Agustus 25, 2017 |

Sabtu, 12 Agustus 2017

Dalil haramnya rokok



Di antara alasan haramnya rokok adalah dalil-dalil berikut ini.

Allah Ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan“. (QS. Al Baqarah: 195).

Karena merokok dapat menjerumuskan dalam kebinasaan, yaitu merusak seluruh sistem tubuh (menimbulkan penyakit kanker, penyakit pernafasan, penyakit jantung, penyakit pencernaan, berefek buruk bagi janin, dan merusak sistem reproduksi), dari alasan ini sangat jelas rokok terlarang atau haram.

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak boleh memulai memberi dampak buruk (mudhorot) pada orang lain, begitu pula membalasnya.” (HR. Ibnu Majah no. 2340, Ad Daruquthni 3/77, Al Baihaqi 6/69, Al Hakim 2/66. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih).

Allah menjelaskan kepada kita tentang kaidah halal-haram dalam firman-Nya,
“Dan (Allah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (Al-A’raaf: 157)

Maka yang baik-baik adalah halal dan yang buruk-buruk adalah haram. Tentang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu hanyalah hak Allah semata. Karena itu, barangsiapa yang mengklaim atau menetapkan dirinya berhak menentukannya, maka dia telah kafir dan ke luar dari Agama Islam.

Dalam hadits ini dengan jelas terlarang memberi mudhorot pada orang lain dan rokok termasuk dalam larangan ini.

Perlu diketahui bahwa merokok pernah dilarang oleh Khalifah Utsmani pada abad ke-12 Hijriyah dan orang yang merokok dikenakan sanksi, serta rokok yang beredar disita pemerintah, lalu dimusnahkan. Para ulama mengharamkan merokok berdasarkan kesepakatan para dokter di masa itu yang menyatakan bahwa rokok sangat berbahaya terhadap kesehatan tubuh. Ia dapat merusak jantung, penyebab batuk kronis, mempersempit aliran darah yang menyebabkan tidak lancarnya darah dan berakhir dengan kematian mendadak.


Salamdakwah
| Agustus 12, 2017 |

Kontradiktif (pake banget)



KONTRADIKTIF.. (PAKE BANGET)

– Banyak orang yang hidup dengan gaya hidup barat.. tapi ingin mati seperti matinya para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.

– Banyak orang yang hidupnya tidak ingin dengan Islam, meski hanya penampilan lahirnya.. tapi kalau mati, ingin dengan Islam lahir batin.

– Banyak orang melihat bahwa mati di jalan Allah adalah sesuatu yang hebat dan mulia.. Tapi mengapa jika ada orang yang hidup di jalan Allah, dilihat ekstrim, sok suci, dan sok-sok yang lainnya.

Mari berbenah diri.. semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semuanya, amin.

Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى


Salamdakwah
| Agustus 12, 2017 |

Jumat, 11 Agustus 2017

Ajari anakmu Sholat



Ajari Anakmu Sholat

Redaksi SalamDakwah

Pendidikan anak yang sangat ditekankan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah membaguskan semangat anak untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Anak diusung untuk senantiasa melatih diri beribadah. Hingga pada masanya, anak tumbuh dewasa, dirinya telah memiliki kesadaran tinggi dalam menunaikan kewajiban ibadah. 



Diantara perintah yang mengharuskan anak dididik untuk menunaikan yang wajib, seperti hadits dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:





“Suruhlah anak-anak kalian menunaikan shalat kala mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (bila meninggalkan shalat) kala usia mereka sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sunan Abi Dawud no. 495. Asy-Syaikh Al-Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menyatakan hadits ini hasan shahih)



Yang dimaksud menyuruh anak-anak, meliputi anak laki-laki dan perempuan. Mereka hendaknya dididik bisa menegakkan shalat dengan memahami syarat-syarat dan rukun-rukunnya.

Jika hingga usia sepuluh tahun tak juga mau menegakkan shalat, maka pukullah dengan pukulan yang tidak keras dan tidak meninggalkan bekas, serta tidak diperkenankan memukul wajah. (Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, 2/114)



Untuk mengarahkan anak tekun dalam beribadah memerlukan pola yang mendukung ke arah hal tersebut. Seperti, diperlukan keteladanan dari orangtua dan orang-orang di sekitar anak. Perilaku orangtua yang ‘berbicara’ itu lebih ampuh dari lisan yang berbicara. Anak akan melakukan proses imitasi (meniru) dari apa yang diperbuat orangtuanya.



Syariat pun sangat tidak membuka peluang terhadap orang yang hanya bisa berbicara (menyuruh) namun dirinya tidak melakukan apa yang dikatakannya.


Salamdakwah
| Agustus 11, 2017 |

Rabu, 09 Agustus 2017

Hukum demo menghalang-halangi pembangunan Masjid dan merobohkannya dalam Islam



Patutkah seorang muslim menghalang²i pembangunan salah satu rumah Allâh, masjid Allâh, tempat yang sakral dan suci, kemudian berupaya merobohkannya???
وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهٗ وَسَعٰى فِي خَرَابِهَآۚ أُوْلٰٓئِكَ مَا كَانَ لَهُمۡ أَن يَدۡخُلُوهَآ إِلَّا خَآئِفِيْنَۚ لَهُمۡ فِى ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٌ وَلَهُمۡ فِى ٱلۡأٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allāh dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allāh), kecuali dengan rasa takut (kepada Allāh). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (QS II—Al-Baqarah: 114)”

Salamdakwah
| Agustus 09, 2017 |

Selasa, 08 Agustus 2017

Doa agar Masjid dilindungi

“SEMOGA ALLAH MENJAGA
MASJIDIL HARAM, MASJID NABI,
MASJID AL AQSHA,
MASJID IMAM AHMAD BIN HANBAL,
DAN SELURUH MASJID AHLUS SUNNAH
DARI SEGALA UPAYA MAKAR
DAN KEBURUKAN.”


Salamdakwah
| Agustus 08, 2017 |

Yuk perbaiki ibadah sholat kita



Penulis: Ummu Salamah Farosyah
Muroja’ah: Ustadz Aris Munandar

Allahu Akbar!… Allahu Akbar! Allahu Akbar!… Allahu Akbar!

“Duh! Sudah adzan, sebentar lagi ah shalatnya… tanggung kerjaannya tinggal sedikit lagi.”

“Eh kok adzan? Padahal filmnya lagi seru nih! Nanti saja shalatnya kalau filmnya sudah selesai ah. Tapi waktu shalatnya nanti keburu habis?! Tunggu iklan saja deh kalau begitu, shalatnya juga harus cepat nih.”

Astagfirullah… Astagfirullah… Astagfirullah…

Ketahuilah ukhti bahwa orang-orang tersebut di atas termasuk jenis orang yang melalaikan shalatnya. Perhatikanlah firman Allah, yang artinya “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maa’uun: 4-5)

Al-Haafidz Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala berkata, yang dimaksud orang-orang yang lalai dari shalatnya adalah:

Orang tersebut menunda shalat dari awal waktunya sehingga ia selalu mengakhirkan sampai waktu yang terakhir.
Orang tersebut tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Orang tersebut tidak khusyu’ dalam shalat dan tidak merenungi makna bacaan shalat.
Dan siapa saja yang memiliki salah satu dari ketiga sifat tersebut maka ia termasuk bagian dari ayat ini (yakni termasuk orang-orang yang lalai dalam shalatnya).

marilah kita bersama-sama berusaha maksimal untuk memperbaiki shalat kita karena ketahuilah bahwa amalan yang pertama akan dihisab oleh Allah di akhirat nanti adalah shalat. Dan kita memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kehinaan dan kondisi orang-orang yang di adzab Allah karena lalai dari shalat.


Salamdakwah
| Agustus 08, 2017 |

Kamis, 03 Agustus 2017

Hukum menjual alat musik (Video)



Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda dalam mencela suatu kaum yang akan menghalalkan benda-benda yang diharamkan,

“Akan ada nanti segolongan umatku yang menghalalkan zina, sutera (bagi laki-laki diharamkan, pen), khamar dan alat-alat musik.” [HR. Al-Bukhari no. 5628, dari Abu Malik Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Adapun dalil haramnya memperjualbelikan benda-benda yang haram adalah dalil umum haramnya tolong menolong dalam dosa, Allah ta’ala berfirman,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [Al-Maidah: 2]

Dan terdapat dalil khusus, yaitu sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Allah ta’ala apabila mengharamkan sesuatu, maka Allah ta’ala mengharamkan harganya.” [HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Hibban dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, dishahihkan Al-Albani dalam Ghayatul Marom: 318]

Selengkapnya simak video kajian berikut ini...

https://youtu.be/lPFyECp9ycg


Salamdakwah
| Agustus 03, 2017 |

Rabu, 02 Agustus 2017

Allah pasti tahu meski tidak ada yang memperhatikanmu



Allah Pasti Tahu...
Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja

Allah pasti tahu meski tidak ada yang memperhatikanmu...

Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya.

(QS. Al-An'am : 59)

Jika gugurnya sehelai daun di tengah belantara hutan Allah mengetahuinya, padahal pohon dan daunnya tidak disuruh beribadah (bukan mukallaf) dan tidak pula dihisab, padahal jumlah daun terlalu banyak,

maka bagaimana lagi dengan kondisimu, lirikan matamu, gerakan hatimu, sedihnya hatimu, tetesan air matamu, lantunan tilawah quranmu...?!

________________________________

🌏 

Salamdakwah
| Agustus 02, 2017 |

Sabtu, 22 Juli 2017

Jalan kebenaran hanya satu



Jalan hidup yang benar hanya ada satu

Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,

‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’” ([Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Para imam tafsir menjelaskan bahwa pada ayat ini, Allah Tabaraka wa Ta’ala menggunakan bentuk jamak ketika menyebutkan jalan-jalan yang dilarang manusia mengikutinya, yaitu {السُّبُلَ}, dalam rangka menerangkan cabang-cabang dan banyaknya jalan-jalan kesesatan. Sedangkan pada kata tentang jalan kebenaran, Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan bentuk tunggal dalam ayat tersebut, yaitu {سَبِيلِهِ}. karena memang jalan kebenaran itu hanya satu, dan tidak berbilang. (Sittu Duror, hal.52).

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepada-Nya, kecuali melalui jalan ini” (Sittu Duror, hal.53).

Diringkas dari:
Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah


Salamdakwah
| Juli 22, 2017 |

Kamis, 20 Juli 2017

Kehidupan dunia, bagai bunga yang dipetik kemudian layu



Imam Muslim meriwayatkan dari hadits Al-Mustaurid bin Syaddad pula, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Dunia dibandingkan akhirat hanya seperti salah seorang di antara kalian yang memasukkan jari tangannya ke dalam lautan. Perhatikanlah apa yang dibawa oleh jari itu?!”

Pada suatu kesempatan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berjalan di kerumunan pasar melewati bangkai anak kambing yang telinganya kecil. Lantas beliau Shallallahu’alaihi Wasallam mengangkatnya dengan memegang telinganya seraya bersabda, “Siapa di antara kalian yang mau membeli ini seharga satu dirham?”

Para shahabat menjawab, “Kami tidak ingin membelinya seharga apapun. Apa yang bisa kamu perbuat dengannya?”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengatakan, “Apakah kalian ingin memilikinya?”

Para hadirin menjawab, “Demi Allah, sekiranya masih hidup pun cacat, bangkai itu bertelinga kecil, lalu bagaimana lagi ketika ia sudah menjadi bangkai?”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Demi Allah, dunia itu lebih hina di sisi Allah daripada bangkai itu di pandangan kalian.” (HR Muslim, dari Jabir –radhiyallahu ‘anhu-)


Salamdakwah
| Juli 20, 2017 |

Rabu, 19 Juli 2017

Ampunilah aku


Ampunilah Aku

Oleh : Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, Lc, MHI

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang segera bertaubat kepada Allah Ta'ala. 

Abul ‘Atahiyah, seorang pujangga yang banyak menuangkan kata-kata mutiaranya dalam banyak bait syairnya pun pernah bersalah. Beliau menuangkan curhatnya kepada Allah Ta'ala seraya memohon kepada-Nya ampunan. Bagaimana curhat beliau kepada Rabb-nya?

Semua itu bisa kita dapati dalam beberapa bait syairnya berikut ini.

Selamat menyimak dan semoga bisa mengambil pelajaran darinya.



Abu al 'Atahiyah rahimahullah berkata:
~ Ya Ilahi, janganlah Engkau menyiksa diriku

~ Aku mengakui segala dosa yang diperbuat olehku

~ Tiada usaha selain harapanku, dan ampunan-Mu

~ jika Engkau mengampuniku, serta prasangka baikku

~ Betapa banyak ku perbuat kesalahan dan dosa-dosa

~ Namun Engkau Maha Pemilik keutamaan dan karunia

~ Bila ku tenggelam jauh memikirkan penyesalanku

~ Ku kan gigit jari dan dapat putus asa dari rahmat-Mu

~ Manusia mengira aku baik hati, namun sesungguhnya

~ aku manusia terburuk andai saja Engkau tak memaafkannya

~ Aku bisa gila dengan indahnya dunia yang penuh perhiasan

~ Aku habiskan umur panjangku hanya dengan berangan-angan

~ Andai saja diriku ini benar-benar zuhud di dunia

~ Niscaya aku kan jauh berubah dari keadaan sebelumnya


Salamdakwah
| Juli 19, 2017 |

Minggu, 16 Juli 2017

Jangan lalai dalam menuntut ilmu Agama


Jangan lalai dalam menuntut ilmu agama

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikry, Lc

Ada sebuah hadits yang perlu kita renungi bersama, karena hal ini menyangkut nama baik kita di mata ALLAH ta'ala.

Nabi bersabda: "Sesungguhnya ALLAH ta'ala membenci setiap orang yang menguasai ilmu dunia namun bodoh tentang ilmu akhirat." (Dishahihkan Syeikh Albani dalam Shahih Jami' Shagir)

Saudaraku, apalah artinya pendidikan tinggi atau prestasi akademis yang kita raih serta gelar yang melekat di belakang nama kita jika kita hanya menjadi makhluk yang dibenci oleh ALLAH ta'ala.

Coba kita renungkan: berapa tahun waktu yang kita habiskan untuk mempelajari ilmu dunia? Lalu kita bandingkan berapa hari dalam satu tahun kita langkahkan kaki kita ke sebuah majelis ilmu?!

Marilah kita luangkan waktu untuk mengkaji firman ALLAH ta'ala dan hadits-hadits Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, kita berusaha menguasai ilmu agama sebagaimana selama ini selama belasan tahun kita pelajari ilmu dunia.

Ingatlah, pintar dalam ilmu dunia dan kosong dari ilmu akhirat adalah sifat dasar orang-orang kafir yang telah dicela oleh ALLAH dalam QS. Ar Rum ayat 7:
"Mereka hanya mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang kehidupan akhirat adalah lalai."


Salamdakwah
| Juli 16, 2017 |

Bulan puasa berlalu, Bulan Haji datang



Bulan Puasa Berlalu, Bulan Haji pun Datang

Oleh Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, Lc

Kita terbiasa mengatakan Ramadhan adalah bulan puasa. 
Sekarang marilah kita populerkan bahwa bulan Syawwal, Dzulqo'dah dan 10 hari pertama Dzulhijjah adalah bulan haji.

Mari kita simak QS. Al Baqarah: 197

"Musim haji jatuh pada beberapa bulan yang telah diketahui (Syawwal, Dzulqo'dah, 10 hari pertama Dzulhijjah)."

Memang benar prosesi haji sendiri baru dimulai tanggal 8 Dzulhijjah, namun jika anda mau, anda sudah bisa melakukan ihram pada bulan Syawwal ini.

Selamat datang di bulan haji...
Hadirkan suasana ibadah, khususnya haji di dalam diri kita!

Perbanyaklah ibadah di hari-hari ini!

Bagi yang akan berangkat tahun ini, lakukan persiapan semaksimal mungkin!

Bagi yang belum mendaftar, segera daftarkan diri anda!

Bagi yang telah mendapatkan nomor porsi, selamat menunggu dengan penuh kesabaran!

Bagi yang telah berhaji, semikan kembali kenangan indah itu serta bumikan makna dan hikmah dalam keseharian anda, dan tancapkan tonggak-tonggak tauhid di dalam hati anda.

Catatan:

Terinspirasi dari nasehat Al 'Allaamah Syaikh 'Abdul Aziz Alu Syaikh, mufti KSA tentang bulan haji.
Lihat tafsir Ibnu Katsir pada QS. Al Baqarah: 197.
Penjelasan apa saja bulan-bulan haji di atas disitir dari penjelasan ulama, diantaranya pandangan madzhab Syafi'i.


Salamdakwah
| Juli 16, 2017 |
Back to Top