Tampilkan postingan dengan label AlhikmahJKT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlhikmahJKT. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 September 2017

Beratnya perkara hutang





HUTANG

Dari Muhammad bin Abdullah bin Jahsy radliyallahu 'anhu berkata,

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam duduk ketika diletakkan Jenazah, lalu beliau mendongakkan kepalanya ke atas, kemudian menundukkannya, dan meletakkan tangannya di dahinya seraya bersabda, 

"Subhanallah! Subhanallah! Perkara yang berat apakah yang diturunkan!"

Kami merasa takut dan kamipun diam.

Keesokan harinya aku berkatanya kepada beliau, "Apakah perkara yang berat yang turun itu?"

Beliau bersabda, "Tentang hutang, demi Dzat yang diriku di tanganNya..
Kalaulah seseorang terbunuh di jalan Allah kemudian hidup lagi kemudian terbunuh lagi kemudian hidup lagi kemudian terbunuh lagi sementara ia mempunyai hutang, ia tidak dapat masuk surga sampai hutangnya terbayar."

HR An Nasai
(Shahih Targhib no.1804)

๐Ÿ‘ค Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc
๐ŸŒ salamdakwah.com

AlhikmahJKT
| September 13, 2017 |

Jumat, 01 September 2017

Hari makan minum : Hari Tasyriq



HARI-HARI MAKAN DAN MINUM

Makan Dan Minumlah Dan Janganlah Berlebih-Lebihan

Saudara-saudaraku, kita sekarang berada pada hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah. red), hari-hari yang kita dilarang berpuasa, dan dianjurkan untuk makan dan minum serta banyak berzikir dan mengingat Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa Idul Adha dan hari tasyriq adalah hari kaum muslimin untuk menikmati makanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Hari-hari tasyriq adalah hari menikmati makanan dan minuman.” (HR. Muslim)

Beliau juga bersabda:
“Hari Mina (hari tasyriq) adalah hari menikmati makanan dan minuman.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud hari Mina adalah ayyam ma’dudaat, Allah Ta’ala berfirman:

ูˆَุงุฐْูƒُุฑُูˆุง ุงู„ู„َّู‡َ ูِูŠ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ู…َุนْุฏُูˆุฏَุงุชٍ

“Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang.” (QS. Al-Baqarah:203).

Dan hari-hari makan dan minum bukan berarti kita makan dan minum tanpa batas, atau berlebih-lebihan, karena sifat berlebih-lebihan itu tidakah baik dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Namun ikutilah rambu-rambu al-Quran tentang makan dan minum, Allah Ta’ala berfirman:

ูˆูƒُู„ُูˆุงْ ูˆَุงุดْุฑَุจُูˆุงْ ูˆَู„ุงَ ุชُุณْุฑِูُูˆุงْ ุฅِู†َّู‡ُ ู„ุงَ ูŠُุญِุจُّ ุงู„ْู…ُุณْุฑِูِูŠู†َ

“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-A`raaf:31).

Selamat makan dan minum yaaaah!!!

๐Ÿ‘ค Ust. Fuad Baraba Lc
๐ŸŒ bbg-alilmu.com


AlhikmahJKT
| September 01, 2017 |

Hukum mendiamkan lebih dari 3 hari ke saudara


SALING MEMAAFKAN

Dalam menjalin hubungan, baik suami istri, saudara dan pertemanan, tidaklah selalu berjalan mulus, tidak jarang dalam hubungan tersebut terjadi perselisihan, kekeliruan dan kekhilafan. Bagaimana jika hal itu terjadi?

Islam agama yang sempurna, mengajarkan umatnya bahwa jika terjadi perselisihan atau kekeliruan maka tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

Dari Abu Ayyub radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
“Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Jika mereka bertemu maka keduanya saling membuang muka. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang pertama memulai salam. 
(Muttafaqun ‘alaihi)

Islam memberi batasan tidak boleh lebih dari 3 hari. Batasan ini diberikan agar saling introspeksi, menahan amarah dan meredam rasa dendam. Namun sebaik-sebaiknya tindakakan yang dilakukan oleh seorang muslim adalah bersegera menjabat tangan saudaranya, memaafkannya dan berusaha menyelesaikannya.

Hal ini dikarenakan dia menjalin hubungan atas dasar cinta karena Allah Ta’ala, sehingga ia berusaha untuk merealisasikan firman Allah Ta’ala:

ูˆَุงู„ْูƒَุงุธِู…ِูŠู†َ ุงู„ْุบَูŠْุธَ ูˆَุงู„ْุนَุงูِูŠู†َ ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุงุณِ ูˆَุงู„ู„َّู‡ُ ูŠُุญِุจُّ ุงู„ْู…ُุญْุณِู†ِูŠู†َ

“Serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” 
(QS. Ali Imran: 134)

Berdasarkan hadits di atas Islam juga memberikan jalan keluar jika terjadi perselisihan, bahwa sebaik-baiknya orang jika terjadi perselisihan adalah yang pertama memulai dengan salam. Dengan salam dapat menumbuhkan rasa cinta, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu hal yang jika dikerjakan pasti kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” 
(HR. Muslim)

Dengan tumbuhnya rasa cinta maka hilang kebencian, dan rasa dendam. Maka hendaknya kita berusaha untuk memaafkan segala kekhilafan dan kekeliruan yang terjadi, sebagaimana kita ingin orang lain memaafkan segala kekhilafan kita.

๐Ÿ‘ค Ust. Fuad Baraba Lc
๐ŸŒ salamdakwah.com

AlhikmahJKT
| September 01, 2017 |

Senin, 28 Agustus 2017

Nikmat adalah bentuk ujian dari ALlah (bukan hanya musibah)



NIKMAT ADALAH BENTUK UJIAN DARI ALLAH (BUKAN HANYA MUSIBAH)

Akhii Ukhtii

Masih ingatkah dengan kisa Nabi Sulaiman?
Seorang Nabi dan Raja yang sangat hebat & menakjubkan
Allah memberinya kerajaan yang tidak diberikan kepada siapapun sesudahnya
Ia memahami bahasa binatang
Bangsa jin tunduk bahkan menjadi bala tentaranya
Angin juga Allah tundukkan buatnya

Dan berbagai nikmat yang lainnya yang tak dapat dihitung lagi

Ketika ia mendengar ratu semut berbicara kepada rakyatnya, sebagaimana Allah ceritakan di dalam surah An Naml ayat 18, beliau tersenyum mendengarkan ucapannya dan langsung ingat kepada Allah Sang Pencipta YangMaha Kuasa, Yang telah memberinya nikmat tersebut seraya berdoa yang artinya,

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku & kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".

Nikmat Allah begitu Besar & tanpa pertolonganNya tidak mungkin ia dapat mensyukurinya.

Nabi Sulaiman tidak lupa daratan dengan kehebatannya, Ia sama sekali tidak congkak dan sombong, bahkan ia merendahkan dirinya depan Allah.

Dan ketika ia meminta agar singgasana ratu balgis dihadirkan ke istananya, sebelum matanya berkedip, singgasana itu telah hadir
Dari jarak yang sangat jauh, Ribuan kilometer antara Yaman-Yerusallem
Dia sadar, bahwa yang terjadi adalah karunia Allah
Dan nikmat itu adalah bentuk ujian dariNya
Tidak seperti sebagian yang memandang ujian hanya yang bentuknya musibah

Maka Nabi Sulaiman langsung berkata,

ู‡َุฐَุง ู…ِู†ْ ูَุถْู„ِ ุฑَุจِّูŠ ู„ِูŠَุจْู„ُูˆَู†ِูŠ ุฃَุฃَุดْูƒُุฑُ ุฃَู…ْ ุฃَูƒْูُุฑُ ]

“Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya)." (An Naml: 40)

Maka bila kau memperoleh nikmat, kesuksesan atau apa saja, sehingga kau merasa hebat
Ketahuilah bahwa dirimu sedang dalam ujian
Berapa banyak yang tidak lulus ketika diuji dengan kenikmatan dunia
Karena dunia membuatmu jauh dan lupa dari sang Pemberi

Semoga engkau bukan salah satunya

๐Ÿ‘ค Ustadz DR. Syafiq bin Riza Basalamah hafidzahullah
๐ŸŒ salamdakwah.com


AlhikmahJKT
| Agustus 28, 2017 |

Adab menyembelih hewan Qurban



ADAB MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

1. HARAM MENYEMBELIH UNTUK SELAIN ALLAH
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah” (HR. Muslim) 

2. HENDAKNYA SOHIBUL KURBAN YANG MENYEMBELIH
“Rasulullah menyembelih kedua (kambing tersebut) dengan tangannya” (HR. Bukhari & Muslim)

3. DENGAN PISAU TAJAM & WAKTU SINGKAT
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan ihsan, jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan ihsan. Hendaknya kalian mempertajam pisaunya dan menyenangkan sembelihannya” (HR. Muslim)

4. MENJAUH DARI PENGLIHATAN HEWAN SAAT MENGASAH/MENYEMBELIH
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengasah pisau, tanpa diperlihatkan kepada hewan” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan yang lainnya).

5. DIANJURKAN MENGHADAPKAN HEWAN KE ARAH KIBLAT
"Ibnu Umar tidak suka memakan sembelihan yang ketika disembelih tidak diarahkan kearah kiblat" (Shahih diriwayatkan Abdurrazzaq)

6. MELETAKKAN KAKI DI LEHER HEWAN AGAR LEBIH TENANG
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba. Aku lihat beliau meletakkan kaki beliau di leher hewan tersebut, kemudian membaca basmalah dan bertakbir… " (HR. Bukhari & Muslim)

7. WAJIB MEMBACA BASMALAH KETIKA HENDAK MENYEMBELIH
“Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan” (QS. Al-An’am: 121).

8. DIANJURKAN MEMBACA TAKBIR SETELAH MEMBACA BASMALAH
"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih dua ekor domba bertanduk,…beliau sembelih dengan tangannya, dan baca basmalah serta bertakbir…" (HR. Bukhari & Muslim)

9. DIANJURKAN MENYEBUT NAMA SOHIBUL QURBAN
"… Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dengan tangan beliau. Ketika menyembelih beliau mengucapkan, ‘bismillah wallaahu akbar, ini kurban atas namaku dan atas nama orang yang tidak berkurban dari umatku.’” (HR. Abu Daud, At-Turmudzi, disahihkan Al-Albani)

10. MEMOTONG TENGGOROKAN, KERONGKONGAN, DUA URAT LEHER
“Selama mengalirkan darah dan telah disebut nama Allah maka makanlah. Asal tidak menggunakan gigi dan kuku.” (HR. Bukhari & Muslim)

11. TIDAK MENGULITI/MEMATAH LEHER SEBELUM HEWAN MATI
"Makruh menguliti binatang yang disembelih sebelum benar-benar mati. Karena tindakan semacam ini termasuk bentuk penyiksaan terhadap binatang. Sebagaimana memotong anggota badan hewan itu" (al-Mughni, 9/402)

๐ŸŒ konsultasisyariah.com, almanhaj.or.id,rumaysho.com


AlhikmahJKT
| Agustus 28, 2017 |

Kamis, 24 Agustus 2017

Bila seorang dari kalian bersin


TENTANG BERSIN

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata:
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmizi, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bagaimana seseorang yang mendengar orang yang bersin dan memuji Allah agar membalas pujian tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan, “alhamdulillah” sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan, “yarhamukallah (Semoga Allah merahmatimu). Jika saudaranya berkata ‘yarhamukallah’ maka hendaknya dia berkata, “yahdikumullah wa yushlih baalakum (Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bila ada orang kafir bersin lalu dia memuji Allah, boleh berkata kepadanya "yahdikumullah wa yushlih baalakum” (Semoga Allah memberikan pada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian). Hal ini berdasarkan hadits Abu Musa al-‘Asy’ari Radhiyallahu anhu, ia berkata,
“Orang-orang Yahudi berpura-pura bersin di ha-dapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berharap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudi mengatakan kepada mereka yarhamukumullah (semoga Allah memberikan rahmat bagi kalian), namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya mengucapkan yahdikumullaah wa yushlihu baalakum (semoga Allah memberikan pada kalian petunjuk dan memperbaiki keadaanmu).” (HR. Ahmad, al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasa-i, at-Tirmidzi, al-Hakim)

Apabila orang itu menambah jumlah bersinnya lebih dari tiga kali, maka tidak perlu dijawab dengan ucapan yarhamukallah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kalian bersin, maka bagi yang duduk di dekatnya (setelah mendengarkan ucapan alhamdulillaah) menjawabnya dengan ucapan yarhamukallah, apabila dia bersin lebih dari tiga kali berarti ia sedang terkena flu dan jangan engkau beri jawaban yarhamukallah setelah tiga kali bersin.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Sunni)

Apabila ada orang bersin sedangkan imam sedang berkhutbah (Jum’at), maka ia harus mengucapkan alhamdulillah dengan merendahkan suara & tidak wajib untuk dijawab yarhamukallah karena diam dikala khutbah Jum’at adalah wajib hukumnya.

Barangsiapa yang bersin sedangkan ia dalam keadaan tidak dibolehkan untuk berdzikir (memuji Allah), misalnya sedang berada di WC, apabila ia khilaf menyebutkan alhamdulillah, maka tidak wajib bagi kita yang mendengarkannya untuk menjawab yarhamukallah. Hal ini karena berdzikir di WC terlarang.

๐Ÿ‘ค Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal
๐ŸŒ almanhaj.or.id, rumaysho.com


AlhikmahJKT
| Agustus 24, 2017 |

Selasa, 22 Agustus 2017

Pengantar surat ke Neraka : Namimah



PENGANTAR SURAT KE NERAKA

Akhi Ukhti

Betapa besarnya jasa tukang pos,
Pada masa lalu, yang dengan sepeda atau motornya memasuki gang-gang kecil untuk menyampaikan surat dari handai taulan atau dari teman...

Namun pada masa kini tugas mereka sudah tergantikan dengan berbagai sarana tehnologi yang begitu modernnya...

Namun ketahuilah… Ternyata ada pengantar-pengantar surat yang pada hakekatnya mengantarkan dirinya ke dalam neraka...

Mereka adalah orang-orang yang suka memindah omongan orang
Tanpa sadar atau tidak omongan itu menimbulkan permusuhan di antara manusia

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda
"Nammam (orang yang melakukan namimah) itu tidak akan masuk surga” (HR. Muslim no 303).

Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka

Bila kiranya ada berita yang kau dengar
Maka berdiamlah sejenak ketika hendak menyampaikan berita itu
Ke surga
Atau ke neraka

Engkau bebas memilih

Dan ingatlah, bahwa semua yang keluar dari lisanmu dan tulisanmu akan kau rasakan dampaknya
Di sini
Dan di sana

ุงู„ู„ู‡ู… ุณู„ู… ุณู„ู…

๐Ÿ‘ค Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰
๐ŸŒ bbg-alilmu.com


AlhikmahJKT
| Agustus 22, 2017 |

Senin, 21 Agustus 2017

2 nikmat besar yang selalu dilalaikan dan dilupakan oleh kebanyakan manusia


Dua Nikmat yang Sangat Besar yang Selalu Dilalaikan & Dilupakan oleh Kebanyakan Manusia, yaitu Kesehatan & Waktu

Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ู†ِุนْู…َุชَุงู†ِ ู…َุบْุจُูˆู†ٌ ูِูŠู‡ِู…َุง ูƒَุซِูŠุฑٌ ู…ِู†َ ุงู„ู†َّุงุณِ ، ุงู„ุตِّุญَّุฉُ ูˆَุงู„ْูَุฑَุงุบُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Di dalam hadits yang mulia ini Nabi Shallallahu'alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita sebuah pelajaran dan nasehat yang sangat besar dan tinggi sekali nilainya apabila kita mau mengambilnya, yaitu memanfaatkan waktu dan kesehatan. Di mana kebanyakan manusia telah tertipu oleh keduanya sehingga mereka melalaikan dan menyia-nyiakan keduanya dalam sebagian besar dari umurnya.

Hal ini disebabkan karena waktu dan kesehatan pasti akan hilang dari manusia. Imma disebabkan kematian yang melenyapkan, atau penyakit yang berkepanjangan. Maka dari sini kita mengetahui dengan penuh kesadaran, alangkah besarnya dan mulianya kemanfaatan waktu dan kesehatan bagi manusia.

✍๐Ÿป Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat.
(Kitab Zuhud dan Riqaa-iq)


The Rabbaanians
| Agustus 21, 2017 |

10 hari yang begitu dicinta



10 HARI YANG BEGITU DICINTA

“Tidak ada sebuah hari pun dimana amal shalih lebih dicintai oleh ALLAH melebihi amal shalih yang dikerjakan di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah.”, tegas Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. 
Para shahabat pun bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah tidak juga jihad fi sabilillah?”
Beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab: 
“Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang pergi berjihad membawa jiwa dan hartanya dan ia tidak pernah pulang kembali ke kampung halamannya (mati syahid).”
(HR. Bukhari 969)

10 hari yang istimewa.
Sebuah prime time beramal shalih.
Dan sadarkah kita, jarak kita dan meraka begitu dekat?
Hari-hari terbaik ini hanya terpisah beberapa puluh jam saja dengan diri kita.

Mari bersiap untuk menyambutnya.
Mari berikan jamuan terbaik.
Mintalah pertolongan kepada ALLAH agar memaksimalkan 10 hari ini.
Tambahkanlah lagi porsi istighfar dan taubat agar dosa dan khilaf kita tidak menjadi batu sandungan kita di 10 hari ini.

Semoga ALLAH memberikan taufiq kepada kita untuk menyambutnya dan memaksimalkannya.

๐Ÿ‘ค Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡
๐ŸŒ bbgalilmu.com

AlhikmahJKT

| Agustus 21, 2017 |

Sabtu, 19 Agustus 2017

Kendalikan lidah



LIDAH, SENJATA BERMATA DUA

Meski lidah merupakan nikmat yang besar, namun kita perlu mengetahui, bahwasanya lidah yang berfungsi untuk berbicara ini seperti senjata bermata dua. Yaitu dapat digunakan untuk taat kepada Allah, dan juga dapat digunakan untuk memperturutkan setan. 

Lidah manusia itu bisa menjadi faktor yang bisa mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah, namun juga bisa menyebabkan kecelakaan yang besar bagi pemiliknya. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya beberapa derajat. Dan sesungguhnya ada seorang hamba benar-benar berbicara dengan satu kalimat yang termasuk kemurkaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka Jahannam” (HR al-Bukhรขri)

BENCANA LIDAH

Secara umum, bencana yang ditimbulkan oleh lidah ada dua. Yaitu berbicara batil (kerusakan, sia-sia), dan diam dari al-haq yang wajib diucapkan. 

Abu ‘Ali ad-Daqqรขq rahimahullah berkata:
“Orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara, sedangkan orang yang diam dari kebenaran adalah setan yang bisu. (Disebutkan oleh Ibnul-Qayyim dalam ad-Dรข` wad-Dawรข)

Kebanyakan manusia, ketika berbicara ataupun diam, ia menyimpang dengan dua jenis bencana lidah sebagaimana di atas. Sedangkan orang yang beruntung, yaitu orang yang menahan lidahnya dari kebatilan dan menggunakannya untuk perkara bermanfaat. 

Bencana lidah termasuk bagian dari bencana-bencana yang berbahaya bagi manusia. Bencana lidah itu bisa mengenai pribadi, masyarakat, atau umat Islam secara keseluruhan. 

Alangkah banyak manusia yang menjaga diri dari perbuatan keji dan maksiat, namun lidahnya memotong dan menyembelih kehormatan orang-orang yang masih hidup atau yang sudah meninggal. Dia tidak peduli dengan apa yang sedang ia ucapkan.

Oleh karena bahaya lidah yang demikian itulah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhawatirkan umatnya.
“Dari Sufyan bin ‘Abdullah ats-Tsaqafi, ia berkata: “Aku berkata, wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang aku akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, ‘Rabbku adalah Allah’, lalu istiqomahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang lidah beliau sendiri, lalu bersabda: “Ini” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

MENJAGA LIDAH

Menjaga lidah disebut juga hifzhul-lisรขn. Lidah itu sendiri merupakan anggota badan yang benar-benar perlu dijaga dan dikendalikan. Lidah memiliki fungsi sebagai penerjemah dan pengungkap isi hati. Oleh karena itu, setelah Nabi n memerintahkan seseorang beristiqomah, kemudian mewasiatkan pula untuk menjaga lisan. Keterjagaan dan lurusnya lidah sangat berkaitan dengan kelurusan hati dan keimanan seseorang. 

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda.
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam” (HR. al-Bukhaari dan Muslim)

Hadits yang disepakati keshahรฎhannya ini merupakan nash yang jelas. Hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali jika perkataan itu merupakan kebaikan, yaitu yang nampak maslahatnya. Jika ia ragu-ragu tentang timbulnya maslahatnya, maka hendaklah ia tidak berbicara.

PERKATAAN PARA SALAF TENTANG MENJAGA LISAN

Diriwayatkan, bahwasanya ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Barang siapa banyak pembicaraannya, banyak pula tergelincirnya. Dan barang siapa banyak tergelincirnya, banyak pula dosanya. Dan barang siapa banyak dosa-dosanya, neraka lebih pantas baginya” (Riwayat al-Qudha`i, Ibnu Hibban)

Diriwayatkan, bahwasanya Ibnu Mas’ud pernah bersumpah dengan nama Allah, lalu berkata: “Tidak ada di muka bumi ini sesuatu yang lebih pantas terhadap lamanya penjara daripada lidah! Di muka bumi ini, tidak ada sesuatu yang lebih pantas menerima lamanya penjara daripada lidah” (Riwayat Ibnu Hibban)

Diriwayatkan, bahwasanya seorang Salaf berkata: “Diam adalah ibadah tanpa kelelahan, keindahan tanpa perhiasan, kewibawaan tanpa kekuasaan. Anda tidak perlu beralasan karenanya, dan dengannya aibmu tertutupi” (Hashรข`idul-Alsun)

Kesimpulannya, kita diperintah untuk berbicara yang baik dan diam dari keburukan. Jika berbicara, hendaklah sesuai dengan keperluannya. Wallahul-Musta’an.

๐Ÿ‘ค Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari
๐ŸŒ almanhaj.or.id (lebih lengkap)

AlhikmahJKT
| Agustus 19, 2017 |

Selasa, 15 Agustus 2017

Inilah manfaat ingat mati


INILAH MANFA’AT INGAT MATI

Bismillah. Sering mengingat kematian akan mendatangkan faedah dan manfaat yang sangat banyak bagi kita semua. Oleh karenanya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menganjurkan kepada kita untuk mengingatnya dan tidak melalaikannya.

Hal ini sebagaimana sabda beliau:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (dunia), yakni kematian.”
(HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi. Dan di-Hasan-kan oleh syeikh Al-Albani).

Berikut ini kami sebutkan beberapa manfaat Ingat Mati sebagai peringatan dan nasehat bagi kita semua.

1- Mengingat kematian merupakan suatu amalan ibadah tersendiri yang berpahala. Hal ini dikarenakan Rasulullahu shallallahu alaihi wasallam menganjurkan kita agar sering mengingatnya.

2- Mengingat kematian dapat membantu kita untuk khusyu’ dalam sholat.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
“Ingatlah kematian dalam sholatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam sholatnya, maka ia akan memperbagus sholatnya. Sholatlah seperti sholat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan sholat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya di hadapan Allah) (karena tidak bisa memenuhinya).”
(HR. Ad-Dailami dalam musnad Al-Firdaus. Hadits ini derajatnya hasan sebagaimana dinyatakan Syaikh Al Albani)

3- Mengingat kematian menjadikan seseorang semakin mempersiapkan diri dengan bekal keimanan dan ketakwaan untuk berjumpa dengan Allah di hari Kiamat.

4- Mengingat kematian akan membuat seseorang memperbaiki hidupnya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (yaitu kematian), karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang, dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan kehidupan akhirat).”
(HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi, dan derajatnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani).

5- Mengingat kematian membuat kita tidak berbuat zholim kepada orang lain.

Allah Ta’ala berfirman:

ุฃَู„َุง ูŠَุธُู†ُّ ุฃُูˆู„َุฆِูƒَ ุฃَู†َّู‡ُู…ْ ู…َุจْุนُูˆุซُูˆู†َ

“Tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan.”
(QS. Al-Muthoffifin: 4).

Ayat ini dimaksudkan untuk orang-orang yang berlaku zholim dengan berbuat curang ketika menakar. Seandainya mereka tahu bahwa besok ada hari kebangkitan dari alam kubur dan akan dihisab satu per satu, tentu mereka tidak akan berbuat zholim seperti itu.

Imam Qurthubi menyebutkan dalam kitab At-Tadzkiroh perkataan Ad-Daqoq mengenai keutamaan seseorang yang banyak mengingat kematian, yaitu:

1- Menyegerakan Taubat
2- Hati yang Qona’ah (selalu merasa cukup)
3- Semangat dalam Beribadah

Sedangkan kebalikannya adalah orang yang melupakan kematian, maka ia terkena hukuman:
1- Menunda-nunda Taubat
2- Tidak merasa ridho dan merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan kepadanya
3- Bermalas-malasan dalam ibadah.

Demikian beberapa faedah dan manfaat INGAT MATI. Semoga bermanfaat dan menjadi bahan renungan bagi kita semua. Amiin.

๐Ÿ‘ค Muhammad Wasitho MA, ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰


AlhikmahJKT
| Agustus 15, 2017 |

Jumat, 11 Agustus 2017

Adab menguap dalam Islam


SETAN TERTAWA KETIKA KITA MENGUAP

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

“...Sedangkan menguap itu dari setan, jika seseorang menguap hendaklah dia tahan semampunya. Bila orang yang menguap sampai mengeluarkan suara ‘haaahh’, setan tertawa karenanya.” (HR. Bukhari 6223)

MENGAPA SETAN TERTAWA?

Tertawa merupakan ekspresi senang dan bahagia. Setan merasa senang ketika godaannya berhasil dan dituruti manusia. Karena setan selalu memotivasi manusia untuk menjadi pemalas dan banyak tidur. Sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa menguap sumbernya dari setan. Dalam sebuah hadis, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Menguap itu dari setan, jika seorang menguap hendaklah dia tahan semampunya.” (HR. Bukhari 3289 & Muslim 7682).

Dr. Musthofa Dib al-Bugho – pakar madzhab syafiiyah kontemporer – mengatakan,
"Menguap dikatakan sebagai godaan setan, karena dialah yang mengajak manusia untuk memenuhi syahwatnya. Sementara menguap terjadi ketika seseorang cenderung malas, banyak tidur, dan berat dalam melakukan ketaatan" (Ta’liq Shahih Bukhari untuk hadis no. 3115)

Jika menguap itu sendiri sudah membuat setan merasa senang, dia akan merasa lebih senang ketika orang yang menguap sampai mengeluarkan suara huaah… Karena yang terjadi tidak hanya menguap, tetapi menguap yang disertai kesungguhan. Inilah yang membuat setan tertawa.

Ada juga yang mengatakan, setan tertawa ketika manusia menguap, karena wajah manusia berubah menjadi jelek saat dia menguap. (Fathul Bari, 10/612).

DILARANG MEMBUAT SETAN TERTAWA

Sebagai muslim, tentu kita dilarang untuk memasukkan kebahagiaan di hati para musuh. Sebaliknya, kita dianjurkan membuat musuh islam marah, karena kita melakukan ketaatan dan komitmen terhadap syariat islam. Dan ini Allah catat sebagai amal soleh.

Allah berfirman,

ุฐَู„ِูƒَ ุจِุฃَู†َّู‡ُู…ْ ู„َุง ูŠُุตِูŠุจُู‡ُู…ْ ุธَู…َุฃٌ ูˆَู„َุง ู†َุตَุจٌ ูˆَู„َุง ู…َุฎْู…َุตَุฉٌ ูِูŠ ุณَุจِูŠู„ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ูˆَู„َุง ูŠَุทَุฆُูˆู†َ ู…َูˆْุทِุฆًุง ูŠَุบِูŠุธُ ุงู„ْูƒُูَّุงุฑَ ูˆَู„َุง ูŠَู†َุงู„ُูˆู†َ ู…ِู†ْ ุนَุฏُูˆٍّ ู†َูŠْู„ًุง ุฅِู„َّุง ูƒُุชِุจَ ู„َู‡ُู…ْ ุจِู‡ِ ุนَู…َู„ٌ ุตَุงู„ِุญٌ

Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal soleh. (QS. at-Taubah: 120).

Jika membuat musuh islam marah termasuk amal soleh, maka membuat marah gembong kekufuran, yaitu setan, juga termasuk amal soleh. Namun tentu saja, semua harus dilakukan seuai aturan.

ADAB-ADAB MENGUAP

1. Apabila seseorang akan menguap, maka hendaknya menahan semampunya dengan jalan menahan mulutnya serta mempertahankannya agar jangan sampai terbuka

Apabila tidak mampu menahan, maka tutuplah mulut dengan meletakkan tangannya pada mulutnya, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Apabila salah seorang di antara kalian menguap maka hendaklah menutup mulut dengan tangannya karena syaitan akan masuk (ke dalam mulut yang terbuka).” [HR. Muslim no. 2995 (57) dan Abu Dawud no. 5026]

2. Tidak disyari’atkan untuk meminta perlindungan dari syaitan kepada Allah ketika menguap, karena hal tersebut tidak ada contohnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari para Sahabatnya.

๐Ÿ‘ค Ustadz Ammi Nur Baits, Syaikh ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani
๐ŸŒ konsultasisyariah.com, almanhaj.or.id


AlhikmahJKT
| Agustus 11, 2017 |

Kamis, 10 Agustus 2017

Hukum menyiksa dengan api dalam Islam



TIDAK BOLEH MENYIKSA DENGAN API 

Secara umum Islam melarang membunuh dan menyakiti siapa saja bahkan non-muslim sekalipun, selama mereka tidak menganggu dan memerangi kaum muslimin. Terlebih jika yang disiksa dan disakiti adalah seorang muslim. Ini merupakan dosa yang sangat besar.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Lenyapnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan pembunuhan terhadap seorang muslim.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1395 dan dishahihkan oleh al-Albani)

Ancamannya cukup keras jika membunuh seorang Muslim jika sengaja, yaitu bisa lama sekali tinggal di neraka dalam waktu yang cukup panjang.

Allah berfirman,

ูˆَู…َู† ูŠَู‚ْุชُู„ْ ู…ُุคْู…ِู†ุงً ู…ُّุชَุนَู…ِّุฏุงً ูَุฌَุฒَุขุคُู‡ُ ุฌَู‡َู†َّู…ُ ุฎَุงู„ِุฏุงً ูِูŠู‡َุง ูˆَุบَุถِุจَ ุงู„ู„ّู‡ُ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَู„َุนَู†َู‡ُ ูˆَุฃَุนَุฏَّ ู„َู‡ُ ุนَุฐَุงุจุงً ุนَุธِูŠู…ุงً

“Barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah jahanam. Ia kekal di dalamnya, Allah murka kepadanya, mengutukinya, serta menyediakan azab yang besar baginya” (QS. an-Nisa`: 93).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan maksud kekal di sini adalah tinggal di neraka dalam waktu yang lama, karena ada penghalang agar ia tidak kekal di neraka yaitu keimanan yang ia miliki. Beliau berkata, “Maksud kekal (di neraka) di sini adalah kekal dengan waktu yang lama, bukan sebagaiman kekalnya orang kafir. Karena kekal ada dua yaitu (salah satunya) kekal yang abadi dan tidak ada batasnya. Ini adalah kekekalan bagi orang kafir di neraka.” (Majmu’ Fatawa wal Maqalat Syaikh Bin Baz 9/380)

Kalaupun harus membunuh sebagai bentuk qishas atau hukuman, Islam pun mengajarkan membunuh dengan cara yang baik dan tidak membuat tersiksa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu, jika kamu membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkan pisaumu dan senangkanlah hewan sembelihanmu.” (HR. Muslim)

Ada satu larangan yang sangat keras, yaitu agar tidak membunuh dan menyiksa dengan api, baik terhadap hewan maupun manusia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Rabbnya api (Allah).” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan albani)

Memang ulama berselisih pendapat mengenai menghukum dan membunuh dengan api.

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata,
“Para salaf berselisih pendapat mengenai membunuh dengan membakar (api). Umar, ibnu Abbas dan lain-lain memakruhkan (tahrim) baik karena kekafiran, dalam maupun keadaan perang, maupun qishas. Ali, Khalib bin Walid membolehkannya.

Akan tetapi pendapat terkuat adalah TIDAK boleh menyiksa dan membunuh dengan api. Dengan alasan:
1. Haditsnya jelas tidak boleh menyiksa dengan api
2. Perbuatan beberapa sahabat seperti Ali dan khalid bukanlah dalil karena ada sahabat juga yang mengingkari seperti ibnu Abbas

Beberapa peraktik yang pernah ada, itu karena kasus qishas, yang membunuh menyiksa dengan api maka ia juga diqishas dengan api juga.

Ibnu Mulaqqin berkata,
“Berkata beberapa ulama, barangsiapa membakar maka ia juga dibakar. Ini adalah pendapat Malik, ulama Madinah, Syafi’i, pengikut Ahmad, dan Ishaq.”

Demikian semoga bermanfaat

๐Ÿ‘ค dr. Raehanul Bahraen
๐ŸŒ muslim.or.id


AlhikmahJKT
| Agustus 10, 2017 |

Sabtu, 05 Agustus 2017

Bila dibully di medsos



DIBULLY DI MEDSOS

Bismillah

Akhi Ukhti…
aku ingin bertanya…

Ada sebuah adab pergaulan yang mungkin kita lupa untuk mengamalkannya
Apalagi pergaulan di dunia maya
dan di alam Medsos
Dimana terkadang kita tidak mengetahui dengan siapa kita bergaul…

Di masa semua orang bisa menulis
Terkadang ada celaan-celaan yang melukai hati
Ada ungkapan-ungkapan kebencian yang tersebar
Bullying
Hal itu terkadang terjadi juga di dunia nyata…

Pertanyaannya, kalau kamu dibully, apakah yang akan kau lakukan?
Balik menyerang, bahkan dengan ungkapan yang lebih parah?

Simaklah wasiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Jabir bin Salim al Hujaimi:

“Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu,
Maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang ada pada dirinya.
Biarkanlah dia, akibat buruknya akan menimpa dirinya dan pahalanya untuk dirimu
Dan jangan sekali-kali mencela seorang pun.”
(HR. Abu Daud at Thayalisi, Ash Shahihah 770)

Jadilah Muslim yang baik, yang Allah bangga dengan keislamanmu
Yang membuat orang jadi salut dengan indahnya ajaran Islam yang kau amalkan

Stop mencela dan menulis sesuatu yang kurang berguna yang dosanya akan kau tanggung

Barakallahu fik

๐Ÿ‘ค Ustadz DR. Syafiq bin Riza Basalamah
๐ŸŒ salamdakwah.com


AlhikmahJKT
| Agustus 05, 2017 |

Minggu, 30 Juli 2017

Futur lagi



FUTUR LAGI

Memang..
Tak selamanya iman itu naik..
Kadang di hari ini semangat beramal..
esoknya menjadi lemah..
Hari ini terasa khusyu' membaca al qur'an..
Lusa dihantui oleh futur..
Duh..
Tapi semua itu akan selalu ada..
Dalam sebuah hadits:
"Pada setiap amal ada masa semangat, dan pada masa semangat ada masa futur(lemah)nya. Siapa yang masa futurnya kepada sunnah, ia telah mendapat hidayah. Dan siapa yang masa futurnya kepada selain itu, maka ia binasa."


Futur menuju sunnah..
Berpindah dari satu amal kepada amal lain..
Disaat futur untuk membaca al qur'an..
Beralih kepada dzikir..
Disaat futur untuk berinfaq..
Beralih kepada shoum..
Tapi disaat futur untuk menuntut ilmu..
Payah..
Karena ilmu itu pondasi amal..
Bagaimana bisa beramal sunnah..
Sementara pondasi telah rapuh..


Futur..
Parasit bagi pencari surga..

๐Ÿ‘ค ustadz AbuYahya Badrusalam, Lc
๐ŸŒ salamdakwah.com
| Juli 30, 2017 |
Back to Top